 |
|
081 sekian sekian kesian kesian....
Kalau anda sering dengar radio yg menyediakan ruang dialog
kepada pendengarnya melalui sms, maka frasa diatas akan
sering.... |
081 sekian sekian kesian kesian....
Kalau anda sering dengar radio yg menyediakan ruang dialog
kepada pendengarnya melalui sms, maka frasa diatas akan
sering anda dengar. Penyiar radio, biasanya lalu mengingatkan
pendengar agar mencantumkan nama dan informasi lain (seperti
lokasi, umur, dan lain lain, tergantung radionya) pada sms dg
format yg telah ditentukan oleh radio.
Sebagai pendengar radio yg beberapa kali mengirim sms, kadang
saya jengkel jika penyiar radio kemudian mengingatkan agar sms
dikirim sesuai dg format yg mereka tentukan. Jengkel karena sms
yg saya kirim itu bukan sms yg pertama kali saya kirim ke radio
tersebut dan sebelumnya saya telah beberapa kali mengirim sms
sesuai dg format yg mereka minta.
Saya jengkel karena sebagai orang yg bekerja di bidang IT, saya
tahu bahwa sms yg masuk ke radio dihubungkan dg komputer.
Lha, kalau sudah tersambung dg komputer, masak mereka tidak
punya aplikasi/program yg bisa mencatat nomor HP dan nama
pengirim, lalu kalau nomornya sudah ada di database, maka yg
ditampilkan adalah identitas (nama, dan mungkin lokasi) pengirim
sms. Jadi cukup sekali saja pendengar mengirim sms yg berisi
informasi diri, selanjutnya setiap kali mengirim sms tidak perlu lagi
menulis nama, lokasi, umur, dll. Persis seperti yg dilakukan
pesawat HP. Memangnya pengelola radio tidak tahu bahwa
penulisan nama, lokasi, dll tsb menghabiskan tempat? Contoh:
kalau saya kirim sms dg nama dan lokasi (sebutlah lokasinya
Depok), maka utk menulis itu saja sudah menghabiskan 12
karakter (termasuk spasi atau koma). Coba kalau nama pengirim
smsnya adalah Setiawan, lokasinya di Pangeran Jayakarta.
Bahkan jika penulisannya disingkat jadi "Setiawan,P Jayakarta"
saja sudah menghabiskan 20 karakter. Padahal operator seluler
disini membatasi sms sampai dengan 160 karakter per sms.
Artinya kalau lebih dari 160 karakter, pendengar radio yg kirim
sms harus membayar lebih dari 1 sms, tergantung panjang sms-
nya. Menulis "Setiawan, P Jayakarta" saja sudah menghabiskan
12.5% karakter yg tersedia. Masalah lainnya, bagi Pak Setiawan
di Pangeran Jayakarta, dia harus berpikir keras utk menuliskan
pesannya kepada radio dalam 139 karakter (160 dikurang 20
dikurang lagi satu spasi sebelum pesan ditulis). Tidak banyak yg
bisa ditulis dalam 139 karakter. Memang sekarang tersedia
banyak pesawat HP yg menyediakan fitur long sms, jadi bisa
saja pendengar radio menulis pesan lebih dari 160 karakter.
Tapi, kalau mengirim sms lebih dari 160 karakter, maka kita
dikenakan biaya lebih dari satu sms.
Kedua, pendengar yg mengirim sms ke radio sebenarnya sangat
membantu radio dalam memperkaya isi (content) programnya.
Beberapa orang menyebut hal ini sebagai "community generated
content". Community generated content ini sebenarnya sangat
membantu radio. Dalam soal laporan situasi lalu lintas, misalnya.
Jika radio harus mencari sendiri informasi ttg kondisi lalu lintas,
tanpa sms dari pendengar, berapa banyak biaya yg harus dibayar
radio utk memperoleh informasi tersebut sehingga bisa disajikan?
Belum lagi acara 'sharing pengalaman' di radio. Praktis,
pendengar lah yg jadi pemasok content bagi radio. Lalu, apa yg
diperoleh pendengar yg membagi (share) pengalamannya dari
radio? Umumnya tidak ada. Bahkan pendengar yg mengeluarkan biaya
utk kirim sms, itu jika sharing pengalamannya via sms. Jika acara
berbagi pengalamannya via telepon, masih banyak radio yg tidak
menyediakan telepon bebas pulsa (toll free). Jadi, sudah pendengar
yg menjadi pemasok content, pendengar juga yg menanggung
pulsa untuk itu. Ueenak tenaaaan bagi radio.
Ketiga, sebenarnya sms dan telepon dari pendengar merupakan
'barang dagangan' radio kepada pemasang iklan. Data sms yg
masuk memberi gambaran ttg pendengar radio tsb. Perkiraan
jumlah pendengar, penyebaran pendengar berdasar jam siaran,
penyebaran pendengar berdasar lokasi (jika radio meminta
pendengar menyebut lokasi dalam sms-nya), dan kelompok
usia (jika pendengar diminta menyebut usia dalam sms-nya).
Profil pendengar yg diperoleh melalui sms yg masuk ini jadi
modal radio ketika berhadapan dengan pemasang iklan.
Terakhir, yang paling bikin jengkel adalah, dengan meminta
pendengar utk menyebutkan nama tiap kali mengirim sms,
saya merasa ada keengganan radio utk mengenali pendengar.
Padahal, jika pemasang iklan adalah nafas radio, maka
pendengar adalah darah bagi radio. Sudah sewajarnya jika
radio melakukan sedikit upaya utk mengenal pendengarnya.
Coba bandingkan dg layanan call center perusahaan
taksi terkenal di Jakarta. Jika anda pernah memesan taksi
melalui telepon, pada pemesanan berikutnya anda hanya perlu
menyebut nomor telepon, maka operator langsung tahu
nama dan lokasi anda.
Keengganan radio mengenal pendengarnya dalam soal sms
sebenarnya sangat menyedihkan. Pertama, karena dibanding
media komunikasi massa yang lain, radio lah yang lebih
akrab dengan masyarakat. Ada banyak cerita tentang
keakraban penyiar radio dengan pendengarnya. Tidak jarang
pula radio mengadakan acara jumpa pendengar. Mungkin
karena dulu, jangkauan dan wilayah operasi radio tidak
terlalu luas, kira-kira hanya sebatas kota, tidak
seperti televisi yang jangkauannya bersifat nasional.
Kedua, ketika banyak teori pemasaran saat ini mengatakan
perlunya personalisasi/kustomisasi dalam berinteraksi
dengan pelanggan, ternyata dalam soal ini (sms) radio
seakan mengabaikan hal ini.
Terakhir, kalau dihitung-hitung, kontribusi pendengar
kepada radio melalui sms sebenarnya sangat besar.
Diantaranya sebagai kontributor isi (content), dan
-seperti disebutkan diatas sebagai- 'barang dagangan'
kepada calon pemasang iklan.
Lagi pula, sebenarnya hanya perlu sedikit upaya untuk
membuat semacam phonebook pada komputer yg menangani
sms agar pendengar tidak perlu lagi menulis nama dan
lokasi tiap kali mengirim sms ke radio.
Saya jadi menangkap kesan bahwa bagi radio, pemasang
iklan adalah raja, nomor satu. Sedangkan pendengar cuma
nomor sekian sekian. Sayangnya, banyak orang yang tidak
sadar soal ini. Jadi..... kesian kesian deh kita.....
buroqi@buroqi.com
|