MENUJU BUDAYA INFORMASI DAN NILAI
Aldy Anwar

Informasi, seperti misalnya data atau keterangan-keterangan mengenai lingkungan, diperlukan manusia guna menjaga keselamatan; berinteraksi dengan lingkungan, mengambil keputusan serta...

MENUJU BUDAYA INFORMASI DAN NILAI

MENUJU BUDAYA INFORMASI DAN NILAI

(Wawancara dengan Aldy Anwar (alm), dikutip dari Majalah Himmah, no. 1, Ramadhan 1404)

 

Aldy Anwar adalah salah seorang eksponen ITB, ketika terjadi gerakan mahasiswa pada tahun ‘73/’74. Jabatannya saat ini adalah Ketua Lembaga Mandiri, di Bandung. Kini sedang menyiapkan beberapa buku mengenai teori Nilai dan Informasi, yaitu suatu rumusan konsepnya tentang kebudayaan masa depan. Berikut ini adalah sebagian konsepnya, yang dikemukakan kepada Bunyamin Ya’cub yang mewawancarainya belum lama berselang.

 

Manusia merupakan suatu sistem dalam kehidupannya, manusia memerlukan masukan-masukan (input) materi dan energi berupa, makanan yang bergizi, misalnya, selain informasi.

 

Dengan demikian sebagai konsekuensinya, agar kontinuitas sistem itu terjamin, bertumbuh dan berkembang; maka manusia juga harus memberikan keluaran-keluaran (out put) bukan saja materi dan energi dalam bentuk sisa dan ampas, tetapi juga berupa energi fisik lain, informasi dan nilai.

 

Informasi, seperti misalnya data atau keterangan-keterangan mengenai lingkungan, diperlukan manusia guna menjaga keselamatan; berinteraksi dengan lingkungan, mengambil keputusan serta langkah-langkah untuk menghadapi masa depannya. Manusia juga memerlukan nilai, karena ia berkaitan dengan keseimbangan. Sebagai contoh, keadilan atau keindahan, misalnya, itu mustahil dicapai tanpa keseimbangan. Nilai mempunyai wujud yang bermacam-macam, yaitu sifat yang melekat pada sesuatu; yang jika itu materi atau energi maka wujudnya adalah arah atau kualitas materi dan energi, Jika itu informasi, wujudnya berupa kualitas informasi atau arah dari suatu proses, seperti misalnya, keindahan atau keadilan.

 

Jadi jika bicara tentang nilai, maka yang dimaksud adalah aspek-aspek atau sisi-sisi suatu kondisi pada keadaan tertentu, yaitu keadaan yang teratur, berevolusi dan meningkat kualitasnya.

 

Di dalam ilmu fisika, dikenal Hukum Thermodinamika II, yang membahas masalah enthropy dimana suatu sistem yang tertutup, artinya tak ada masukan dan keluaran, maka lambat laun - seperti halnya dalam sistem manusia - akan mengalami kejumudan, bahkan kematian, dengan demikian, jika sistem itu hidup, harus ada proses, akan ada transformasi materi dan energi, yang tentu saja akan memakan biaya!. Artinya sebagian energi dan materi itu akan terpakai dalam proses perubahan, dari materi dan energi asal (sumber daya) menjadi suatu produk.

 

Karena biaya itu tak bisa dipakai, maka dibutuhkan serangkaian proses lagi untuk mengubahnya kebentuk semula, agar ia bermanfaat. Kalaupun itu dilakukan, maka tetap mustahil akan didapat dalam jumlah yang sama. Biaya inilah yang disebut enthropy.

 

Setiap transformasi materi dan energi pasti melibatkan enthropy. Dan itu bisa pula dijadikan ukuran bagi tingkat keteraturan. Artinya semakin banyak enthropy, semakin tingi pula ketidak teraturan dalam sistem tersebut.

 

Selain itu satu hal lagi perlu dipahami. Di dalam Hukum Thermodinamika I, materi dan energi terkena hukum konservasi (kelestarian) materi dan energi, apa pun prosesnya. Neraca materi dan energi itu tetap, tidak berubah. Sebagai misal, kalau kita memiliki 1 piring nasi (materi), maka nasi itu tak bisa diberikan kepada orang lain; sebab kita akan kehilangan nasi itu. Demikian pula sebaliknya. Berbeda halnya dengan sifat informasi dan nilai, ia tak terkena hukum konservasi. Contohnya, kalau kita mempunyai ilmu (informasi sekaligus nilai), maka, justru lebih baik diberikan kepada orang lain, sebab ilmu kita tak akan berkurang, tapi ilmu orang yang menerimanya akan bertambah.

 

Namun dewasa ini manusia cenderung memperebutkan materi dan energi, bukan saja untuk mempertahankan hidupnya, tapi bahkan guna menimbun kekayaan. Setelah mampu menimbun barang, yang itu sering dikatakan sebagai jaminan masa depannya, tetapi apa yang kita saksikan dewasa ini adalah: kekayaan itu malah dipakai sebagai alat kekuasaan. Itulah yang disebut keserakahan manusia. Dan itu pula yang kerap menjadi dasar konflik-konflik, baik antara manusia per individu maupun kelompok.

 

Empat ciri Peradaban

 

Jika diukur dengan masukan materi dan energi, yang menjadi keluaran informasi dan nilai, maka ada 4 ciri peradaban manusia. Pertama pada saat manusia hanya mampu melibatkan masukan dan keluaran sekedarnya (masyarakat agraris). Kemudian, suatu peradaban manusia dimana perbandingan antara masukan dan keluaran sudah mulai naik, tapi penggunaan masukan masih boros, karena masih melibatkan produk antara dalam prosesnya. Jadi transformasi itu belum langsung.

 

Berikutnya adalah tercapainya peradaban informasi. Industri banyak menghasilkan informasi, dengan melibatkan masukan dan keluaran yang semakin tinggi (naik). Memang peradaban ini amat boros dalam pemakaian materi dan energi, tapi ia juga kaya informasi dan nilai. Inilah peradaban kita sekarang.

 

Sedangkan peradaban yang ideal adalah jika manusia sudah mampu mendayagunakan masukan yang rendah (hemat). Tapi keluarannya tinggi. Peradaban itu bukan saja hemat materi dan energi serta kaya informasi, melainkan nilai-nilai yang dilahirkan sudah “luhur”. Peradaban masyarakat inilah yang kita cita-citakan. Dan ini hanya dapat dicapai menurut saya, sepenuhnya oleh peradaban Islam; yang sumbernya betul-betul mengikuti Al Qur’an.

 

Menurut saya kebudayaan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui keputusan manusia lewat serangkaian proses. Kita memang harus memanfaatkan teknologi, namun sebagai umat yang bercita-cita meraih peradaban tingkat 4 itu, kita tak boleh memalingkan pandangan dari kekuatan yang sebenarnya justru harus diangkat, yaitu aturan-aturan Al-Qur’an. Sebab nilai itu merupakan “kebutuhan pokok” manusia, sehingga berteknologi dalam terminologi kita adalah manifestasi ibadah.

 

Al-Qur’an menurut saya, merupakan satuan informasi. Dengan demikian, apa yang dikandungnya kita harus pahami. Tetapi itu saja belum cukup. Ia juga harus direalisasikan, artinya; nilai yang ada dalam Al-Qur’an meti diwujudkan dalam berteknologi nyata.

 

Memang ada beberapa hambatan yang menyebabkan, sampai saat ini, umat Islam sendiri banyak yang tidak memahami nilai-nilai Al-Qur’an, apalagi merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti misalnya, hambatan bahasa. Sebagian besar umat Islam (terutama di Indonesia) masih menggunakan bahasa ibunya. Bahkan bahasa yang dipelajari di sekolah bukan bahasa Al-Qur’an. Kalaupun ada, tidak dalam pemahaman yang jelas. Kemudian, kendala ilmu pengetahuan, masih sedikit orang yang menguasai ‘ilmu bantu’ yang memang diperlukan untuk memahami makna Al-Qur’an yang luas itu; misalnya ilmu pengetahuan budaya, sejarah, alam dan lain sebagainya, kesenjangan lain adalah teknologi. Kita masih senang memperlakukan Al-Qur’an secara tradisional, yaitu sekedar membaca dan menghafalnya saja. Padahal ia bisa digunakan dengan bantuan alat teknologi. Misalnya, Komputer atau alat lain sejenisnya.

 

Terakhir adalah hambatan yang menyangkut banyak hal. Tampaknya sudah tidak mungkin lagi sekarang kita memahami Al-Qur’an dengan bertatap muka berjam-jam dengan guru ngaji seperti di madrasah, pesantren atau di tempat lainnya. Sebab di tengah galaunya kegiatan dan informasi lain dewasa ini, kita jiga membutuhkan waktu untuk mengetahui dan terlibat di dalamnya.

 

Dengan demikian sudah saatnya kita mengembangkan progran informatika Al-Quran agar lebih mudah ‘dibaca’, dipahami dan diimani. Informatika yang saya maksudkan adalah praxis yang berkaitan dengan pengembangan, pengetahuan pelestarian dan sebagainya. Mencakup segala kegiatan, memadukan ilmu dan teknologi praxis, pembangkitan, pengadaan; pengolahan, pemanfaatan dan pelestarian. (by)

 

 

<< List Artikel